Perusahaan yang Lahir Dengan Nama Raja Garuda Mas Menyalurkan Listrik Untuk Masyarakat

Perusahaan yang lahir dengan nama Raja Garuda Mas yang berdiri di tahun 1973 dan beroperasi sampai saat ini bahkan sudah memiliki banyak anak perusahaan ini merupakan sebuah perusahaan yang peduli dengan lingkungan sekitar. Raja Garuda Mas yang sekarang bernama Royal Golden Eagle atau RGE merupakan perusahaan yang peduli dengan masyarakat sekitar. 

Salah satu bentuk kepedulian tersebut adalah proyek biogas yang merupakan upaya dari Asian Agri untuk memperlihatkan bagaimana kontribusi nyata di sektor kelapa sawit bagi ketersediaan energi secara nasional dengan memanfaatkan hasil limbah produksi sawit yang dapat menghasilkan gas metana. Nantinya akan dijadikan sebagai pembangkit listrik bagi masyarakat setempat. Proyek tersebut diberi nama PLTBg yang merupakan proyek RGE bersama Asian Agri untuk negeri. 



Proyek PLTBg Asian Agri Bersama RGE Untuk Menyalurkan Listrik 

Pada kuartal pertama di tahun 2015, Asian Agri membangun PLTBg pertamanya dan menargetkan untuk membangun kurang lebih sebanyak 20 unit PLTBg sampai dengan tahun 2020. Asian Agri sendiri sebelum ini juga sudah membangun sebanyak enam PLTBg di beberapa daerah lain yang ada di beberapa provinsi seperti di Sumatera Utara, Riau dan juga di daerah Jambi. Ditelisik, jumlah PLTBg yang mengalirkan energi listrik mencapai 2 megawatt dan dari kapasitas ini kurang lebih sebanyak 40% untuk operasional perusahaan dan sisanya 60% diberikan oleh perusahaan RGE untuk masyarakat yang ada di sekitar. Kapasitas ini menjangkau rentang 1000 sampai dengan 1200 rumah tangga dengan daya listrik up to 900 watt di daerah sekitar perusahaan RGE berdiri. 

Besar harapan dari Royal Golden Eagle agar target sekitar 28 ribu rumah tangga yang akan menikmati pasokan listrik dari PLTBg benar – benar bisa ditingkatkan. Untungnya saja apa yang dilakukan oleh RGE ini disambut dengan baik dan mendapatkan apresiasi dari pemerintah. Tepatnya pada 18 September 2017 kemarin, kementerian energi dan sumber daya mineral sudah memberikan banyak penghargaan anugerah energi lestari 2017 kepada Asian Agri sebagai perusahaan yang paling banyak dalam upaya pembangunan PLTBg. 

Ya, project ini memang project besar RGE dimana pembangunan PLTBg merupakan salah satu bentuk pemanfaatan potensi limbah pertanian yang sudah tersebar di seluruh provinsi yang ada di Indonesia sebagai suatu solusi bagi daerah – daerah yang sampai saat ini masih belum bisa mendapatkan akses listrik dari PLN karena berbagai faktor salah satu karena keterbelakangan atau masalah ekonomi yang dihadapi. 

Tentunya PLTBg yang dibuat dari limbah cair sawit memiliki beberapa kelebihan antara lain adalah dapat beroperasi non stop 24 jam, stabil dan juga dapat diandalkan karena tidak berpengaruh pada aspek cuaca, serta sekaligus menjadi produk yang ramah lingkungan dan murah. Harganya juga lebih murah dibandingkan dengan teknologi listrik berbasis BBM seperti genset diesel atau PLTD. 

Berdasarkan informasi yang diberikan oleh Badan Pusat Statistik di tahun 2013 luas lahan perkebunan kelapa sawit yang ada di Riau mencapai angka 2,2 juta hektar dan berpotensi untuk menghasilkan kurang lebih sekitar 6,5 juta ton minyak sawit setiap tahun dengan limbah cair mencapai 16,25 hektar juta m3 limbah cair. Jika pengolahannya dimaksimalkan tentu limbah cair ini berpotensi untuk menghasilkan sebanyak 90 MW listrik dan mampu mengurangi terjadinya emisi mencapai 568 ribu ton CO2 setiap tahunnya. Diharapkan juga agar pembangunan pilot project ini dapat menginspirasi pihak yang lain utamanya bagi pihak swasta untuk melakukan investasi didalam pengembangan waste to energynya. 

No comments:

Powered by Blogger.