Kontroversi Tabloid Indonesia Barokah Jelang Pilpres 2019




Menjelang pelaksanaan Pemilihan Presiden atau Pilpres 2019, terdapat sebuah kontroversi yang menggegerkan publik. Kontrversi tersebut adalah maraknya penerbitan dan penyebarluasan suatu tabloid yang bertajuk ‘Indonesia Barokah’. Cetakan dari tabloid Indonesia Barokah secara misterius telah dicetak dalam jumlah yang besar, dan disebarluaskan ke berbagai daerah di Indonesia. Penyebarluasan tabloid Indonesia Barokah pun menyasar kepada masjid-masjid, serta berbagai pondok pesantren.

Berbagai wilayah di Indonesia seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, telah menjadi daerah sasaran penyebarluasan tabloid Indonesia Barokah tersebut. Yang lebih menimbulkan tanda tanya dan mengakibatkan kontroversi di masyarakat adalah siapa dalang dibalik peredaran tabloid Indonesia Barokah. Sebab, sampai dengan saat ini, siapa yang membuat atau mengeluarkan, dan siapa yang menyebarluaskannya belum diketahui oleh pihak berwajib. Di samping berisi tulisan yang tendensius, penerbit dan penulis dalam tabloid Indonesia Barokah tidaklah jelas.

Penyebarluasan tabloid Indonesia Barokah ini tentu saja menimbulkan berbagai kontroversi dan keresahan di dalam masyarakat. Terlebih lagi hal ini dilakukan menjelang pelaksanaan Pilpres 2019, sehingga menimbulkan keresahan bahwa hal ini merupakan salah satu bentuk kampanye hitam untuk menjatuhkan salah satu pihak dan menguntungkan salah satu pihak lainnya.

Selain itu, bahasan yang ada di dalam tabloid Indonesia Barokah juga dianggap telah menyudutkan pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut dua, yakni Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Isi dari tabloid tersebut membahas mengenai berbagai topik pembahasan yang arahnya adalah menjatuhkan pasangan calon Prabowo dan Sandi. Oleh karena itu, apabila tidak segera diuraikan, maka permasalahan ini dapat mengakibatkan perpecahan dalam masyarakat Indonesia. Tanpa informasi yang jelas, masyarakat bisa terpecah belah dan teradu domba oleh konten-konten provokatif yang termuat di tabloid Indonesia Barokah.

Nuruddin Lazuardi, pengamatn intelijen dari Universitas Indonesia beranggapan bahwa penyebarluasan tabloid Indonesia Barokah menjelang pelaksanaan Pilpres 2019 ini adalah operasi intelijen. Terdapat dua kategori operasi intelijen, yakni operasi intelijen pemerintah dan operasi intelijen non pemerintah atau swasta. Bahkan jika penyebarluasan tabloid Indonesia Barokah terbukti merupakan operasi intelijen, bisa jadi operasi tersebut bersifat kampanye hitam atau black campaign.

Pihak Badan Pengawas Pemilu atau Bawaslu juga menanggapi kontroversi tersebar luasnya tabloid Indonesia Barokah. Bawaslu sebagai instansi yang menjaga agar pelaksanaan Pilpres dan Pemilihan Umum di tahun ini bisa berjalan dengan lancar, aman, jujur, dan berakhir bahagia. Bawaslu selalu memberikan pengawasan kepada berbagai pihak yang melakukan berbagai tindakan yang mengarah pada pelanggaran peraturan pelaksanaan Pilpres dan Pemilu di tahun 2019 ini. Namun demikian pihak Bawaslu masih melakukan pengkajian permasalahan dan melakukan inventarisasi tabloid Indonesia Barokah.

Oleh karena itu, penerbitan dan penyebarluasan tabloid Indonesia Barokah menjelang Pilpres 2019 ini haruslah segera dilakukan pemeriksaan dan penyelidikan dari berbagai pihak, termasuk aparat kepolisian dan dewan pers Indonesia. Dengan bekerja sama dan saling berkoordinasi, maka penerbitan dan penyebarluasan, sekaligus maksud dan tujuan tabloid Indonesia Barokah bisa diketahui. Kemudian pihak yang berwenang dapat mengambil tindakan yang tepat dan tidak menimbulkan kerugian di salah satu pihak pasangan calon presiden dan wakil presiden, maupun merugikan masyarakat.

Tanpa adanya penanganan yang tepat dan segera, maka hal ini bisa menjadi masalah yang besar yang dihadapi oleh Indonesia yang akan menggelar pesta demokrasi berupa Pilpres dan Pemilu Serentak 2019. Maka kita sebagai warga negara yang cerdas, maka jangan sampai terpengaruh hanya karena adanya kasus kontroversial tabloid Indonesia Barokah.


No comments:

Powered by Blogger.